Mungkin tidak lama lagi seseorang akan merasakan sepi kembali, atau
mungkin hanya keadaan yang enggan mencari.
Pernah kubangun sebuah gubuk malam dengan senyuman, namun sudah berpuluh bayangan bulan silih berganti, ia ku tinggalkan.
Aku yang waktu itu dibawa ruang ketidaktahuan, sengaja meninggalkan.
Barangkali mata harus punya jarak, untuk pernah merasakan memapah sebuah rindu.
Semenjak jarak itu, tiap malam aku membeli sepi yang musti kupahami, dan menahan segala mau untuk memadu.
Seribu kata sudah kuketik, kutulis dan ku urungkan sampainya.
Perlahan dan pasti sebuah catatan terus memaksaku menandai keadaan, dan malammu yang tak pernah ku tahu dengan bagaimana hadir ketiadaan.
Perbincangan kita sudah tidak mampu hadir keyakinan,
dan sudah bisa kutitipkan resah kelanjutan pada Tuhan dan sebuah kemungkinan.
Kumpulan Puisi
Minggu, 22 Oktober 2017
Sebuah perbincangan
Rabu, 07 Juni 2017
Yang kupilih
Terkadang semua puisi yang saya maknai sebagai puisi hanyalah sebatas keluhan saya, kesadaran saya yang membuat kegelisahan hati bertekuk lutut pada sebuah kata-kata. Bisa jadi aku menyelipkan dosa diantara huruf yang ku tata, sebab kegelisahan ini merupakan bandang keluhan kedzoliman diri pada diri sendiri dan orang lain, aku hanya ingin menempuh jalan sunyi saat ini, menempatkan diri dalam jejak-jejak yang jarang dilalui. Aku adalah asing dimataku dan hati mulai jauh tak memeluk. Aku seperti dikuasai lain, segala tubuhku berpeluh, menyamarkan tangis yang muncul dari tubuh.
Aku selalu ingin sejenak pergi dan pergi.
Menapaki jalan sunyi yang kupilih.
Tanpamu, tanpaku.
Hanya sang Illahi Rabbi.
Tidak ada Tuhan selain engkau Ya Allah, Maha suci engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang berbuat kedholiman.
Minggu, 28 Mei 2017
Seraya
(Untukmu dan kita, tanpa aku. Yang sulit dan bahkan tidak akan bertemu.)
Aku menjalani namamu sendiri.
Aku memeluki kaki huruf kisahmu.
Aku mencari sebuah celah ketidak mungkinan.
Mungkin jarak yang tidak berarah
Mulai berdesak-desak ingin rindu
yang tidak menahu
Memasak mata di alis lekuk bintang wajahmu
Aku meniduri mimpi sendiri
Sebagai rupa yang tidak tau arah sebab cinta
Yang memiliki nama cuma tidak ada yang berkata
Ya, katamu adalah guyonan senja yang garing
Tapi tentang suara itu kini awan mulai sering beriring
Yang terlena jatuh menjadi mabuk hujan
Jera, biar aku biar jera
Kini sajakpun nyata tak melampah
Yang merebah menculik mesra raya
Stanza terakhir yang kurindu tak menahu
Awan angin ribut mengetuki mimpi
Renta ia melangkah
Angan yang merabun beruban
Fasih mengukir resah
Ada merindu yang tidak akan pernah tahu
Hanya bernama sebuah sajak lusuh
Dari yang sulit dan bahkan tidak mungkin bertemu.
Berkali
(Untuk paman yang telah pergi)
Satu, dua, tiga
Enam, tujuh juga
Berapa kita sudah
Sejak semua orang mengantarmu
Dimana kita tidur?
Dijendela yang masih setia memandang jenuh duka
Bukan hanya pintu yang rindu
Cinta, sebuah pasak yang mengakar beluntas di kaki hati
Ah, sudah ramadhan lagi
Kini tempat itu kosong dan segala rindu mencari
Jendela, jendela, jendela
Kaca, kaca, kaca
Rumah, rumah, rumah
Timbunan cinta mengubur kita dalam rindu berjumpa.
Jumat, 12 Mei 2017
Permintaan
Tak tentu arah aku bisa menunggumu
katamu yang berserakan mengakar
pada akhirnya
aku hilang waktu juga.
.
Sebuah jendela terbuka dan pintu
dibiarkna pergi meninggalkan rindu begitu saja
hingga nantinya
waktu akan menjemputku dengan sukarela.
.
Apa mungkin aku atau memang
kamar ini yang mulai mendingin;
beberapa dari kabut sunyi meniduriku
diranjang tak bertepi.
Bisakah kita bertemu untuk sesekali?
.
Dan jika cintalah buah kalbu
ia pernah hidup dirahim rindu,
sesekali aku ingin menyatu.
Dalam sebuah dzikir yang hidup kalbu.
Merindu melara
Disinikah tempat kesamaran dari
secuil kasmaran? engkau
menarik pangkal bujukku tuk berpendirian,
sekali lagi masa ialah tentang
rembulan yang minum awan langit
malam cinta yang menggamit.
.
Disinikah aku menemukan beluntas hampa
yang dibaliknya biasa kutulis namamu?
tapi biarlah malam ini aku mesra duka
menepilah sedikit dari ranjang pepenaku.
.
Disini aku yang berkaca berpeluh
menyisir buaian rambut waktu
bisakah engkau minggir duka
biar kumesra dengan lara yang merindu.
Kamis, 11 Mei 2017
Saat ini
Aku bisa saja memilihkanmu aksara
dari bibir cinta yang menganga.
Dan kesedihan hanya sebatas menimang
waktu yang sedang berdandan.
Jika kebersamaan hanya tentang
berjabat tangan dan mimpi
kita berteduh dalam pohon
namun payung menyelimuti kita kegelisahan.
Sesekali senja akan bermuka masam
dan pagi menemani kita dengan dagelan garing.
Ia akan bercerita sejenak
Cinta kini telah aku cari disini
Sebuah jawaban yang selalu membayangi