Kamis, 29 Desember 2016

Desember dalam kaleidoskop

Aku melihat kedua bola matamu yang menyelinap merindui embun pagi yang mencoba menampik sepi.
Memadamkan segala caya atau hitam pekat yang berdebu ditepian senjakala.

Tapi tetap saja wajahmu hilang dibalik rembulan yang perlahan meredam.
Aku mencoba menghadirkan matahari, menenangkanmu dan menunggui pagi, tapi senyummu tak pernah kembali seperti sedia kala lagi.

Apa senyummu telah menepi dibias kemukus pagi hari, atau hanya sekedar hilang agar aku mau pergi mencari.
Dua belas bulan aku telah merangkai hari, di siang malam titik balik bulan segala cahaya matahari yang mengusir sepi, namamu masih saja belum kutemui.
Dan kuceritakan padamu kembali,
desember ini berakhir kan tak seperti dahulu lagi.

29/12/2016
-Dua puluh tahun kumenunggu wajahmu kembali.

Jumat, 16 Desember 2016

Kemarin

(Untuk Sahabat Kami Azyanul Muchtar)

Sudah berbulan lalu, berpuluh purnama kita tak temu.
Berderet garis yang kita baca, berkaca pada senyum dalam bersama.
Rinai tawamu masih hangat selimuti kalbu.
Pecah ia dalam canda yang berderu dan berdamba.
Hingga kita pernah berjumpa pada rindu yang bersih dari jelaga.
Hingga rindu kita belum terbaca.
Namamu sudah pada rindu yang ada mendahului rindu kita.
Rindu dari yang Maha Penyayang.
Maha Pengasih, pemberi karunia setiap orang.
Kini, rindu itu terbang.
Serta segala bayang berjatuhan mengikuti alur hujan datang.
Bersama do'a dari kami.
Semoga segala amalmu diterami oleh Sang Ilahi Rabbi.
Saat kita mulai berjarak.
Namamu selalu terkenang disegala jemari do'a yang lentik bergerak.

Jumat, 09 Desember 2016

Hadir kembali

(Untuk paman yang hadirnya takkan terganti ditiap purnama yang silih berganti)

Sudah satu purnama kita berjarak dan berbeda hingga terasa sesak berdenyut di dada.
Sesekali kutengok dan berkata mungkin begini degup ini.
Saat hadirmu sudah tak disisi.
Dan namamu sudah tertulis menancap batu berdiri.
Kupandangi tiap malam yang tak berteduh pada rintik-rintik sepi.
Disertai rindu yang masih saja tetap membekas dihati.
Kalimatmu masih bersembunyi dibalik lentik tangan berdo'a sendiri.
Hingga bekas air mata yang sudah kering.
Kini teringat mulai kembali keluar membawahi kening.
Batasan rinduku tak cukup melampaui segala syahdu do'a untukmu.
Hingga kami selalu tahu.
Bahwa rindu ialah tentang do'a yang kami hadirkan untukmu.
Semoga selalu mendapat tempat terbaik disisiNya di segala amalmu.
Kita akan bertemu kembali.
Pada dua purnama yang terlalui nanti.
Didetik 100 hari.
Untukmu yang selalu dihati.

Jumat, 02 Desember 2016

Tidak tahu

Kamu dan dingin merut kulitmu menahan angin.
Berbicara dengan suara lantang tapi lirih didengar orang.
Selepas pagi hingga terik siang tuan tapaki.
Panas dan keringat serta kepulan asap jalanan.
Hingga dingin hujan mencabik tipis kening berkernyit.
Berderet-deret sapa kau suguhkan.
Dari yang tersenyum, menolak serta diam engkau teracuhkan.
Menawar takdir yang kadang menggelintir.
Membujuk waktu agar mau membantu.
Mendorong segala kata hingga berbuah helaian rupiah.
Percayalah indah duniamu sudah disiapkan pada akhirnya.
Sebab tiada dalam hatimu kata minta.

Jumat, 25 November 2016

Seminggu

(Untuk Paman sekaligus keluarga kami, dalam 7 hari kepergianmu)

Antara kita dan segala candamu.
Sebaris tawa yang kau suguhkan selalu.
Entah, dimana kita berada atau apakah ini sekedar singgah.
Ditiap batas malam yang sulit bertemu dan segala kerinduan.
Jika tawamu sudah pergi lalu siapa yang menghibur kami.
Dalam guyonanmu yang berbingkai rindu.
Dimana kami bisa bertemu lagi.
Dalam segala batas yang tak bisa kami lampaui.
Dalam segala duka yang kami resapi.
Dirimu sudah pergi sebelum kami sempat.
Bercanda mesra bersamamu sekali lagi.
Menegaskan bahwa hadirmu tak akan dapat terganti.

Senin, 21 November 2016

Sapa

Tentang kejadian dan mengapa.
Mengapa dan kenapa.
Ada apa sebenarnya kenapa.
Mengapa sebenarnya ada apa.
Ada apa sebenarnya ada apa.
Kenapa sebenarnya, mengapa.
Mengapa sebenarnya, kenapa.
Kenapa? dan Mengapa?
Dikejadian kita.

Kamis, 17 November 2016

Yang dikenang

(Untuk paman sekaligus keluarga kita)

Anda telah berpulang orang yang kita sayang.
Dimata yang berbeda dengan segala tetes terbayang.
Kami tak menyangka dipagi yang tenang.
Dihembus nafasmu yang masih senang.
Dalam rindu milikNya Tuhan segala orang.
Anda dipanggil dengan segala kasih sayang.

Segala yang kami kenang.

Waktu

Kami dan pagi ini, serta
masih kabut tipis yang menyelimuti.
Pekat caya sedikit berterik, hilang
sulit temukan jalan yang bimbang.
Berkenaan sama-sama berlari, ada
duduk, diam serta enggan berdiri.
Bercengkrama pada siang, pada
sesal terasa lebih malang.
Sore yang sudah berdegup, membuat
segala tutur kembang gugup.
Dalam tanya bayangMu menyapa, pada
dua cahaya yang berdiri membawa janji.
Dan.
Malam,
segala yang kelam terasakan, betapa
hilang dalam hadirku pada matahari tenggelam silam.

Rabu, 16 November 2016

Tentangmu

Tentangmu serta batasan segala rindu.
Jika malam mau bisa kuceritakan tentangmu.
Selepas suntuk dan batas-batas kita yang tidak mungkin masuk.
Malam dan malam mulai menggenggam.
Berpulang rindu sebab temu tinggallah temu.
Melepas ingin dalam ikhlas yang dingin.
Kerna, dimana aku adalah garis antara kamu.
Lalu apa yang akhirnya menyatu.
Tentangmu serta batasan segala rindu.

Minggu, 06 November 2016

Lampu malam ini

Senyap yang ada hanya mendekati.
Mencoba memeluk kembali aku pada kesendirian yang tak berujung.
Keegoisan melekati dinding-dinding sepi, enggan mencari mata yang menemani.
Detik-detik malam ini enggan beranjak,
dikelip lampu kota taman dan segala kopi yang hitam.
Duduk dan menjadi sepi ditengah ramai yang hadir menemani.
Segenang kolam diaspal basah menampilkan siluet wajah dari celah yang kulihat diatasnya.
Kering ia dalam duka yang tak tahu arah.
Mencoba mengusir sendiri dari dekapan sepi.
Mencoba mencari arti pada malam yang tak mampu dimengerti.
Bersama dan sendiri.

Mojosari, 6/11/16

Selasa, 25 Oktober 2016

Gardu rindu

Desaku desa yang mengandung aku.
Menjelma ia dalam kabut hening
Dan padi hijau kemuning.
Sawah dan bambu di kali juga angin merayu.
Dalam ngerti serta haru.
Kamu gubuk hening yang sudah lama kutinggal. Mengisi sepi dalam cerita yang sepenggal.
A dalam tarimu serta nyanyi.
Mengandung kenangan dan 1000 arti.
Kini sudah lama terbagi.
Desaku pagi sudah bukan dulu lagi.

Senin, 10 Oktober 2016

Dalam keresahan

Pengertian adalah ketidakmengertian dalam pikiran.
Sebab terkadang ada kebingungan dalam keresahan yang berangan.
Ada kesombongan dalam tiap kerendahan.
Mencoba menakar kebaikan dalam kerangka keburukan.
Menjadi orang lain agar terlihat mengagumkan seperti angin.
Mecoba bersuara agar terlihat tinggi bak udara.
Mencampakkan tiap jengkal jati diri yang perlahan mulai pergi.
Menampar nurani.
Merasakan keresahan batin tanpa henti.
Dalam diri yang selalu ingin "ikhlas" memahami.

-Dalam keresahan

Minggu, 09 Oktober 2016

Dalam linangan

Dalam syukur malam aku menghatur.
Masih mencari jalan menujuMu.
Dalam tangis, air mata serta tumpah.
Aku tidak tahu dimana.
Dan siapa.
Dengan apa.
Punya apa.
Tidak tau arah.
Dalam sepi yang memagut hati.
Izinkan hamba yang tidak tau diri.
Kembali ke jalanMu lagi.
Berserah sendiri diri ini.

-Dalam linangan

Sabtu, 08 Oktober 2016

Terakhir kali

Aku duduk kembali.
Disela-sela pagi, di terik yang masih sepi.
Tidak ada kata, aku dan sendiri.
Masih saling sapa mata embun yang berkaca,
dari duka kemarin malam yang ada.
Aku duduk kembali.
Ditengah-tengah hilangnya kopi yang sudah enggan berbagi.
Sebab kehilangan bukan untuk bertemu kedukaan.
Kehilangan tentang melapangkan.
Dari ikhlas jemari yang lepas dan enggan memautkan pesan.
Aku duduk kembali.
Kemudian tidur disini.
Enggan kembali lagi.
Aku pamit hilang sepi.

-Terakhir kali.

Lazuardi

Ada pagi kali ini, siang sore berhenti.
Menghela nafas yang disambut hujan deras.
Dan langit baru muncul.
Awan yang hening serta tak biasa ialah ceria.
Langit dan teduh yang kamu hadirkan mampu membuat melupakan.
Sebab sederas apapun hujan akan berakhir dengan kehangatan.
Dalam langit dan tertawa.
Henti menjadi jelaga di tiap suasana.
Ada hadirmu seperti langit baru.
Lazuardi pagi di terataiku.

Jumat, 07 Oktober 2016

6 tahun lalu

Tepat malam ini enam tahun lalu.
Tujuh hari meninggalkan kami dalam duka sedu.
Entah apa dalam pikiranku saat aku begitu tak merasa meninggalkanmu.
"Temani aku" katamu.
Tapi aku memilih pergi dan asyik dengan orang lain.
Andaikan air mata ini tahu kapan dia keluar.
Pasti aku mau menemanimu walau waktu menghalangi hingga sukar.
Dalam punggungmu terukir kebaikanmu.
Dalam kakimu surga kami berpadu.
Kini sudah enam tahun lalu.
Aku selalu mengingatmu dalam do'aku.
Perempuan permata yang disayang keluarga yang saat ini rindu.
Ibu.

Siti aminah.

Rabu, 05 Oktober 2016

Unggun pemahaman

Berbicara dalam keramaian hanyalah sebuah sepi yang sembunyi sendirian.
Sebab ada beribu kata yang tak bisa terungkap hanya dengan mulut berkecap.
Ada hati yang sulit berbagi, dan mata yang mulai berkaca.
Memang,
Namamu adalah luka yang terselip pada biji kopi.
Lalu setiap malam aku meminumi nya, menikmatnya.
Membangun sebuah rumah yang kusebut sajak dengan namamu sebagai pondasinya.
Perasaanku menjadi tiangnya.
Serta penyesalan melingkupi atapnya.
Mempertahankan kerinduan.
Menceritakan pesan bahwa kekecewaan tak pernah terlupakan.

(untuk mawar)
-Unggun pemahaman.

Selasa, 04 Oktober 2016

Hilir

Sedambamu dalam mencari rindu,
tak membuatku kaku.
Jika hening mampu membaur dalam malam,
mengapa kamu enggan datang dan bersalam.
Jika kamu ingin berpisah dengan indah,
maaf, senjakala lebih tau cara berpisah dengan indah.
Menampik pagut memisah raut.
Aku dalam namamu sudah tak berpaut.

-Hilir

Sabtu, 01 Oktober 2016

Hujan 3

Pagi pun sudah datang hari ini.
Menyisakan, basah.
Serta bercak luka kemarin sore.
Hadirmu pun sebatas mampir untuk berakhir.
Aku tidak tahu tentang segala yang ada dalamku.
Aku ingin hilang.

Hujan 2

Aku tahu hujan ini sesaat.
Tapi tetap saja ada luka melekat.
Aku akan lebih mudah melupakan keterlanjuran.
Jika tidak pernah ada kesengajaan.
Tuhan selalu merelakan diriku untuk bisa melihat pertemuan mereka.
Ada yang tidak akan bisa kamu mengerti.
Tentang hujan dan pilihan yang kau cari.
Ada awan hujan kaki langit pun enggan.
Menahan hujan sebab duka sudah jatuh bersamaan.
Hujan.

(Semua ketidakwarasanku ialah masih saja ini tentangmu)

Hujan

Aku adalah gumpalan debu dan asap.
Aku adalah gumpalan awan hitam dilangit.
Aku adalah mendung kelam yang memayungi.
Aku adalah rinai air.
Aku adalah hujan di awan jingga yang menghitam waktunya.
Aku adalah gumpalan debu yang menjadi hujan,
kemudian membasahimu bersamanya.
Ingin menghadirkan sejuk dan suasana romantis untukmu,
tanpa kau memperdulikan bahwa aku sedang jatuh.

(Saat aku melihatmu dengannya didepan hujan yang sama)

Kamis, 29 September 2016

Daun

Daun dalam daun anggun yang terhimpun.
Ada sejuk yang rasanya ampun.
Nikmat Tuhan yang tiada hitung memasuki relung.
Daun yang gugur.
Sedap cium lambai nyiur.
Indahnya alam negeri indonesia berdikari.
Dalam tanah ku adalah air yang menjelma.
Menjadi tumbuh dan padamu,
ku mengabdi indonesia.

Frame dalam siluet 2

Malam ini dan memang sama saja.
Kamu tidak kembali.
Membiarkan garis waktu berlari sendiri.
Deras.
Menjauhi langit mendekatkan, hati yang tak beriring.
Hujan.
Mendekat dan menceritakan.
Arti rindu dan, setitik saksi kenangan.
Frame yang cukup lama.
Dibilas tak bergeming.
Tetap saja kamu berlalu.

Selasa, 27 September 2016

Kamu

"Kamu''
Sepenggal kata,
"kamu"
Selalu,
"kamu"
Mengganggu,
"kamu"
Dalam ke tegaanmu berpaling.

Senin, 26 September 2016

Frame dalam siluet

Sama saja jenuhnya.
Beranjak bukan berarti semudah bergerak.
Sebab ada sesak yang tergeletak.
Bergerumul menyatu dalam riak.
Ada angin dan hujan tak berirama.
Sedap memekakkan hening dalam suara.
Kamu..
Tentang sejuta rintik air dan kilauan rindu.
Membujuk hati agar segera pergi.
Beranjak agar tak ada lagi.
Sangat luka, sangat kecewa.
Dalam hatimu aku sudah tak ada.

-frame dalam siluet

Malam ini hujan

Ada kecewa dalam tiap hadirnya.
Meski rindu kadang mengganggu.
Masih saja, dia enggan kembali dan acuh.
Mungkin benar.
Satu-satunya alasan kuat untuk semua ialah hilang.
Mengenali tiap warna malam dengan sendirian.
Mewarnai dinginnya hujan dengan pengertian.
Menggambarkan perasaan dengan aku di ingatan.
Dia tetap saja diam.
Entah kenapa, pengertian tak kunjung ngerti.
Serta perhatian tak lagi ada arti.
Ada kecewa dalam tiap hadirnya.
Meski rindu kadang mengganggu.
Masih saja, dia enggan kembali dan acuh.

-Malam ini hujan

Minggu, 25 September 2016

Dalam ini

Saat ini didalammu terdapat haru.
Ada yang lain.
Dihatimu ada sosoknya yang dulu.
Yang sekarang sudah pergi dan jauh.
Yang aku takutkan.
Rasa ini ada untukmu.
Yang aku takutkan.
Ada rasa sakit untukmu.
Tapi tetap saja hati ini selalu membawa.
Ada aku dan berjuta ragam rasa.
Kamu memang tak sama.
Dengannya kamu berbeda.
Sudah satu purnama aku berada tanpanya.
Tapi kita selalu tak sengaja hadir.
Denganmu yang bukan siapaku.
Terkadang selalu ada rasa cemburu.
Dibalik statusmu, beritamu, bahkan fotomu.
Kita lebur dalam tawa dan menyatu.
Dalam dingin aku takut jatuh cinta padamu.

Sabtu, 24 September 2016

Dimana

Diamana.
Kabarmu tak kau tunjukkan lagi ini.
Tak kau temani aku memaguti pedih lagi.
Hilang pergi.
Malam ini.
Telah pergi.

Jumat, 23 September 2016

Dalam waktu

Malam menegaskan waktu.
Enggan berbalik dan memukul jauh.
Sebab tiada ingin sedu.
Merindui lalu yang tak kunjung temu.

-dalam waktu

Hujan malam

Ada satu dalam daku.
Sedih tulismu.
Dalam pesan singkat di dindingmu.
Apa rasa itu?
Sedihkah?
Seribu tanya kulempar pada semesta.
Sepi tetap saja menjawab dengan bahasa bisunya.
Entah waktu merajuk atau mulai lupa.
Mengapa?
Ada peduli dalam benci dihati.
Ada percaya pada rasa yang mulai tiada.
Hadir menuduh ingin aku membujuk.
Menghentikan lukanya yang datang merajuk.
Sebab rumit rasa miliknya dengan orang lain.
Masih.
Kusuguhkan sederhana dalam ingin.
Menyediakan sandaran pada peluhmu yang dingin.
Mengusap.
Menegaskan.
Peduliku dalam diam, hadir untukmu yang masih tak bersalam.

-hujan malam

Sia-sia

Mengapa harus tentang rindu, jika ini tak kunjung temu.
Ada sekat yang menghalang dekat.
Menyapa ingat agar tak kunjung sesaat.
Berbicaralah.
Ada diammu mengisyaratkan makna.
Ada diamku pun merasakan luka.
Tak bergeming.
Kau tak acuh.
Aku diam.
Mengisyaratkan benci hadir dalam sepi.
Menjunjung duka merekah dalam dada.
Kita beranjak tak bersapa.
Jauh tinggalkan semua yang pernah singgah.
Acuhmu, diamku.
Sajakku bicara.
Ini punya keadaan tak ada makna.
Sia-sia.

-dalam jauhku merindu

Kamis, 22 September 2016

Dalam tidurmu

Terimakasih.
Atas acuh yang kau beri.
Dan hianat yang telah kau bagi.
Pada dusta yang sudah kau ingini.
- "Maafku" tak akan pernah ada untukmu.

Dalam diam

Antara merekah dan merah alit.
Kau suguhkan luka dan rasa sakit.

-Dalam diam
8/16

Rabu, 21 September 2016

Ku catat

Ku catat

Ku catatkan supaya mengerti.
Arti dari yang dibawah.
Serta tunggang yang bisa tergenggam patah.
Ku catatkan supaya mengerti.
Untuk yang ku sanjung.
Dan yang tulisnya kumuat dan kujunjung.
Ku catatkan supaya mengerti.
Arti dari harga yang tak bisa dibeli.
Tapi lebih pantas untuk ter acuh dan pergi.
Ku catatkan supaya mengerti.
Pada hormat yang tak pernah kubagi.
Serta garis yang selalu ku taati.
Ku catatkan supaya mengerti.
Arti dari eja serta definisi.
Aku yg tidak beraut serta noda.
Pada habis yang ada dan sudah.
Aku hitam dalam lautan.
Serta noda dalam tinjauan.
Tapi suaraku tetap ada untuk tuan.
Jika masih berharaga ambil adanya.
Atau lupakan sebab aku memang noda.
Untuk tuan.
Ku catatkan supaya mengerti.

02:34.  29/06

-Dalam dengung yang kudengar

Selasa, 20 September 2016

Jadi

Jadi langkahmu sudah jauh?
Merakit rindu yang lama menjadi syahdu.
Sementara aku kau tinggal dalam hujan kenangan yang lupa berteduh.
Jadi langkahmu sudah jauh?
Menggandeng tangannya, menangkupkan do'a.
Aku pasrah dalam duka bersimpuh pada sang pemilik semesta.
Jadi langkahmu sudah jauh?
Enggan kembali ke masa lalu yang kita bangun dengan harapan itu.
Jatuh kau ku angkat.
Jatuhku kau tak ingat,
dan memilih pergi tanpa sekat.
Jadi langkahmu sudah jauh?
Ya, apa pedulimu?
Terimakasih luka ini untukku.
Ternsenyum adalah bagianmu.
Sebab aku tahu rasanya berjuang sampai akhir tanpa kau timbang,
lalu kau pergi dengan lain aku kau buang.
Apa aku marah?
Tidak.
Percayalah.
Ada ngerti dibalik hianat yang tak pernah merasa peduli.
Ada sedalam duka saat sengaja kau suguhkan luka.
Ada sakit diantara masa yang katamu ada masalalu bersamaku yang tak ingin kau ungkit.
Apa kamu sudah lupa?
Sampai detik akhir impianmu.
Aku hadir disana membawakan do'a berdiri untukmu.
Terimakasih atas segala rasa.
Berpalingmu adalah dusta yang tak pernah kuduga.

Tentang kopi dan bangku yang rindu

Tentang kopi dan bangku yang rindu

Pekat yang disuguhkan, terima kasih tuan.
Kau haturkan kopi ke mejaku bersama ingatan.
Ya, ditempat duduk ini beberapa bulan lalu dia bilang membawa sapu tanganku.
Rindu katanya.
Benda itu mewakilkan hadirku padanya.
Dia bilang ingin berbincang seharian tanpa resah.
Aku siap mendengar cerita seribu suka.
Bincangnya dalam tawa, bersama
tiap jengkal cerita dari suara teman sebangkunya.
Rindu katanya.
Mencium sapu tangan mewakilkan hadirku padanya.
Kenanglah waktunya.
Karena saat ini sudah tiada diduga.
Pergi dariku hadirnya.
Bersama orang baru yang dia cinta.
Beberapa bulan lalu,
kopi ini selalu mengingatkanku.

Tentang yang sudah lupa

Sudah kulukiskan, apakah tidak ingat?
Selaksa jemari mengungkit lembaran menjadi hiburan.
Sudah kugambarkan, apakah tidak ingat?
Sejengkal dua pangkal aku bentukkan sampai menjadi kekokohan.
Sudah kuterangkan, apakah tidak ingat?
Sepatah suara aku iringkan dalam do'a tanpa resah.
Sudah kutunjukkan, apakah tidak ingat?
Mengiringkan jalanmu menuju mimpimu.
Sudah kusampaikan, apakah tidak ingat?
Tentang cara berdiri ditengah badai tak bermuara.
Sudah kukuatkan, apakah tidak ingat?
Saat bertahan didasar sulit yang paling pahit.
Sudah kusenyumkan, iringkan, do'akan, suguhkan, indahkan.
Terakhir ku salamkan.
"Selamat semua sudah kau lupakan dengan luka yang sudah sukarela kau suguhkan". Untukku.
Ucapku luka ini takkan mungkin kulupakan.

Senin, 19 September 2016

Malam

Malam

Tiadamu ada disini.
Bukan hilang hingga menyusup
di keheningan malam.
Hilangmu bukan pergi.
Tapi masih hadir hingga mengarat
bersamaan suara.
Senyapmu bukan tak ada.
Denyut pun terasa merengkuh
dikesungguhan.
Dan kuhadirkan malam ini.
Bukan tiada, hilang, senyap pun berbisik.
Ini do'a hadirkan.
Untuk sungguh
yang tak hilang karena gamang.
Dan senyap yang tiada temu
karena lantun ini untukmu.

00:59   26/06/16

Radio

Radio

Radio sampai nanti?.
Sampai kapan kau merajuk dan mati.
Sedang salamku kini terbenam dalam.
Jadi, dimana suaramu.
Maka mari bernyanyi.
Sekali dua lipat kan ku pahami.
Bisakah untukmu ku kirim puisi.
Jika suaraku tak cukup merdu dalam nyanyi.
Aku hanya ingin hidup kembali.
Dalam radio klasik yang menemani sore hari.

30/Apr/16