Daun dalam daun anggun yang terhimpun.
Ada sejuk yang rasanya ampun.
Nikmat Tuhan yang tiada hitung memasuki relung.
Daun yang gugur.
Sedap cium lambai nyiur.
Indahnya alam negeri indonesia berdikari.
Dalam tanah ku adalah air yang menjelma.
Menjadi tumbuh dan padamu,
ku mengabdi indonesia.
Kamis, 29 September 2016
Daun
Frame dalam siluet 2
Malam ini dan memang sama saja.
Kamu tidak kembali.
Membiarkan garis waktu berlari sendiri.
Deras.
Menjauhi langit mendekatkan, hati yang tak beriring.
Hujan.
Mendekat dan menceritakan.
Arti rindu dan, setitik saksi kenangan.
Frame yang cukup lama.
Dibilas tak bergeming.
Tetap saja kamu berlalu.
Selasa, 27 September 2016
Senin, 26 September 2016
Frame dalam siluet
Sama saja jenuhnya.
Beranjak bukan berarti semudah bergerak.
Sebab ada sesak yang tergeletak.
Bergerumul menyatu dalam riak.
Ada angin dan hujan tak berirama.
Sedap memekakkan hening dalam suara.
Kamu..
Tentang sejuta rintik air dan kilauan rindu.
Membujuk hati agar segera pergi.
Beranjak agar tak ada lagi.
Sangat luka, sangat kecewa.
Dalam hatimu aku sudah tak ada.
-frame dalam siluet
Malam ini hujan
Ada kecewa dalam tiap hadirnya.
Meski rindu kadang mengganggu.
Masih saja, dia enggan kembali dan acuh.
Mungkin benar.
Satu-satunya alasan kuat untuk semua ialah hilang.
Mengenali tiap warna malam dengan sendirian.
Mewarnai dinginnya hujan dengan pengertian.
Menggambarkan perasaan dengan aku di ingatan.
Dia tetap saja diam.
Entah kenapa, pengertian tak kunjung ngerti.
Serta perhatian tak lagi ada arti.
Ada kecewa dalam tiap hadirnya.
Meski rindu kadang mengganggu.
Masih saja, dia enggan kembali dan acuh.
-Malam ini hujan
Minggu, 25 September 2016
Dalam ini
Saat ini didalammu terdapat haru.
Ada yang lain.
Dihatimu ada sosoknya yang dulu.
Yang sekarang sudah pergi dan jauh.
Yang aku takutkan.
Rasa ini ada untukmu.
Yang aku takutkan.
Ada rasa sakit untukmu.
Tapi tetap saja hati ini selalu membawa.
Ada aku dan berjuta ragam rasa.
Kamu memang tak sama.
Dengannya kamu berbeda.
Sudah satu purnama aku berada tanpanya.
Tapi kita selalu tak sengaja hadir.
Denganmu yang bukan siapaku.
Terkadang selalu ada rasa cemburu.
Dibalik statusmu, beritamu, bahkan fotomu.
Kita lebur dalam tawa dan menyatu.
Dalam dingin aku takut jatuh cinta padamu.
Sabtu, 24 September 2016
Dimana
Diamana.
Kabarmu tak kau tunjukkan lagi ini.
Tak kau temani aku memaguti pedih lagi.
Hilang pergi.
Malam ini.
Telah pergi.
Jumat, 23 September 2016
Dalam waktu
Malam menegaskan waktu.
Enggan berbalik dan memukul jauh.
Sebab tiada ingin sedu.
Merindui lalu yang tak kunjung temu.
-dalam waktu
Hujan malam
Ada satu dalam daku.
Sedih tulismu.
Dalam pesan singkat di dindingmu.
Apa rasa itu?
Sedihkah?
Seribu tanya kulempar pada semesta.
Sepi tetap saja menjawab dengan bahasa bisunya.
Entah waktu merajuk atau mulai lupa.
Mengapa?
Ada peduli dalam benci dihati.
Ada percaya pada rasa yang mulai tiada.
Hadir menuduh ingin aku membujuk.
Menghentikan lukanya yang datang merajuk.
Sebab rumit rasa miliknya dengan orang lain.
Masih.
Kusuguhkan sederhana dalam ingin.
Menyediakan sandaran pada peluhmu yang dingin.
Mengusap.
Menegaskan.
Peduliku dalam diam, hadir untukmu yang masih tak bersalam.
-hujan malam
Sia-sia
Mengapa harus tentang rindu, jika ini tak kunjung temu.
Ada sekat yang menghalang dekat.
Menyapa ingat agar tak kunjung sesaat.
Berbicaralah.
Ada diammu mengisyaratkan makna.
Ada diamku pun merasakan luka.
Tak bergeming.
Kau tak acuh.
Aku diam.
Mengisyaratkan benci hadir dalam sepi.
Menjunjung duka merekah dalam dada.
Kita beranjak tak bersapa.
Jauh tinggalkan semua yang pernah singgah.
Acuhmu, diamku.
Sajakku bicara.
Ini punya keadaan tak ada makna.
Sia-sia.
-dalam jauhku merindu
Kamis, 22 September 2016
Dalam tidurmu
Terimakasih.
Atas acuh yang kau beri.
Dan hianat yang telah kau bagi.
Pada dusta yang sudah kau ingini.
- "Maafku" tak akan pernah ada untukmu.
Rabu, 21 September 2016
Ku catat
Ku catat
Ku catatkan supaya mengerti.
Arti dari yang dibawah.
Serta tunggang yang bisa tergenggam patah.
Ku catatkan supaya mengerti.
Untuk yang ku sanjung.
Dan yang tulisnya kumuat dan kujunjung.
Ku catatkan supaya mengerti.
Arti dari harga yang tak bisa dibeli.
Tapi lebih pantas untuk ter acuh dan pergi.
Ku catatkan supaya mengerti.
Pada hormat yang tak pernah kubagi.
Serta garis yang selalu ku taati.
Ku catatkan supaya mengerti.
Arti dari eja serta definisi.
Aku yg tidak beraut serta noda.
Pada habis yang ada dan sudah.
Aku hitam dalam lautan.
Serta noda dalam tinjauan.
Tapi suaraku tetap ada untuk tuan.
Jika masih berharaga ambil adanya.
Atau lupakan sebab aku memang noda.
Untuk tuan.
Ku catatkan supaya mengerti.
02:34. 29/06
-Dalam dengung yang kudengar
Selasa, 20 September 2016
Jadi
Jadi langkahmu sudah jauh?
Merakit rindu yang lama menjadi syahdu.
Sementara aku kau tinggal dalam hujan kenangan yang lupa berteduh.
Jadi langkahmu sudah jauh?
Menggandeng tangannya, menangkupkan do'a.
Aku pasrah dalam duka bersimpuh pada sang pemilik semesta.
Jadi langkahmu sudah jauh?
Enggan kembali ke masa lalu yang kita bangun dengan harapan itu.
Jatuh kau ku angkat.
Jatuhku kau tak ingat,
dan memilih pergi tanpa sekat.
Jadi langkahmu sudah jauh?
Ya, apa pedulimu?
Terimakasih luka ini untukku.
Ternsenyum adalah bagianmu.
Sebab aku tahu rasanya berjuang sampai akhir tanpa kau timbang,
lalu kau pergi dengan lain aku kau buang.
Apa aku marah?
Tidak.
Percayalah.
Ada ngerti dibalik hianat yang tak pernah merasa peduli.
Ada sedalam duka saat sengaja kau suguhkan luka.
Ada sakit diantara masa yang katamu ada masalalu bersamaku yang tak ingin kau ungkit.
Apa kamu sudah lupa?
Sampai detik akhir impianmu.
Aku hadir disana membawakan do'a berdiri untukmu.
Terimakasih atas segala rasa.
Berpalingmu adalah dusta yang tak pernah kuduga.
Tentang kopi dan bangku yang rindu
Tentang kopi dan bangku yang rindu
Pekat yang disuguhkan, terima kasih tuan.
Kau haturkan kopi ke mejaku bersama ingatan.
Ya, ditempat duduk ini beberapa bulan lalu dia bilang membawa sapu tanganku.
Rindu katanya.
Benda itu mewakilkan hadirku padanya.
Dia bilang ingin berbincang seharian tanpa resah.
Aku siap mendengar cerita seribu suka.
Bincangnya dalam tawa, bersama
tiap jengkal cerita dari suara teman sebangkunya.
Rindu katanya.
Mencium sapu tangan mewakilkan hadirku padanya.
Kenanglah waktunya.
Karena saat ini sudah tiada diduga.
Pergi dariku hadirnya.
Bersama orang baru yang dia cinta.
Beberapa bulan lalu,
kopi ini selalu mengingatkanku.
Tentang yang sudah lupa
Sudah kulukiskan, apakah tidak ingat?
Selaksa jemari mengungkit lembaran menjadi hiburan.
Sudah kugambarkan, apakah tidak ingat?
Sejengkal dua pangkal aku bentukkan sampai menjadi kekokohan.
Sudah kuterangkan, apakah tidak ingat?
Sepatah suara aku iringkan dalam do'a tanpa resah.
Sudah kutunjukkan, apakah tidak ingat?
Mengiringkan jalanmu menuju mimpimu.
Sudah kusampaikan, apakah tidak ingat?
Tentang cara berdiri ditengah badai tak bermuara.
Sudah kukuatkan, apakah tidak ingat?
Saat bertahan didasar sulit yang paling pahit.
Sudah kusenyumkan, iringkan, do'akan, suguhkan, indahkan.
Terakhir ku salamkan.
"Selamat semua sudah kau lupakan dengan luka yang sudah sukarela kau suguhkan". Untukku.
Ucapku luka ini takkan mungkin kulupakan.
Senin, 19 September 2016
Malam
Malam
Tiadamu ada disini.
Bukan hilang hingga menyusup
di keheningan malam.
Hilangmu bukan pergi.
Tapi masih hadir hingga mengarat
bersamaan suara.
Senyapmu bukan tak ada.
Denyut pun terasa merengkuh
dikesungguhan.
Dan kuhadirkan malam ini.
Bukan tiada, hilang, senyap pun berbisik.
Ini do'a hadirkan.
Untuk sungguh
yang tak hilang karena gamang.
Dan senyap yang tiada temu
karena lantun ini untukmu.
00:59 26/06/16
Radio
Radio
Radio sampai nanti?.
Sampai kapan kau merajuk dan mati.
Sedang salamku kini terbenam dalam.
Jadi, dimana suaramu.
Maka mari bernyanyi.
Sekali dua lipat kan ku pahami.
Bisakah untukmu ku kirim puisi.
Jika suaraku tak cukup merdu dalam nyanyi.
Aku hanya ingin hidup kembali.
Dalam radio klasik yang menemani sore hari.
30/Apr/16