Ada satu dalam daku.
Sedih tulismu.
Dalam pesan singkat di dindingmu.
Apa rasa itu?
Sedihkah?
Seribu tanya kulempar pada semesta.
Sepi tetap saja menjawab dengan bahasa bisunya.
Entah waktu merajuk atau mulai lupa.
Mengapa?
Ada peduli dalam benci dihati.
Ada percaya pada rasa yang mulai tiada.
Hadir menuduh ingin aku membujuk.
Menghentikan lukanya yang datang merajuk.
Sebab rumit rasa miliknya dengan orang lain.
Masih.
Kusuguhkan sederhana dalam ingin.
Menyediakan sandaran pada peluhmu yang dingin.
Mengusap.
Menegaskan.
Peduliku dalam diam, hadir untukmu yang masih tak bersalam.
-hujan malam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar