Desaku desa yang mengandung aku.
Menjelma ia dalam kabut hening
Dan padi hijau kemuning.
Sawah dan bambu di kali juga angin merayu.
Dalam ngerti serta haru.
Kamu gubuk hening yang sudah lama kutinggal. Mengisi sepi dalam cerita yang sepenggal.
A dalam tarimu serta nyanyi.
Mengandung kenangan dan 1000 arti.
Kini sudah lama terbagi.
Desaku pagi sudah bukan dulu lagi.
Selasa, 25 Oktober 2016
Gardu rindu
Senin, 10 Oktober 2016
Dalam keresahan
Pengertian adalah ketidakmengertian dalam pikiran.
Sebab terkadang ada kebingungan dalam keresahan yang berangan.
Ada kesombongan dalam tiap kerendahan.
Mencoba menakar kebaikan dalam kerangka keburukan.
Menjadi orang lain agar terlihat mengagumkan seperti angin.
Mecoba bersuara agar terlihat tinggi bak udara.
Mencampakkan tiap jengkal jati diri yang perlahan mulai pergi.
Menampar nurani.
Merasakan keresahan batin tanpa henti.
Dalam diri yang selalu ingin "ikhlas" memahami.
-Dalam keresahan
Minggu, 09 Oktober 2016
Dalam linangan
Dalam syukur malam aku menghatur.
Masih mencari jalan menujuMu.
Dalam tangis, air mata serta tumpah.
Aku tidak tahu dimana.
Dan siapa.
Dengan apa.
Punya apa.
Tidak tau arah.
Dalam sepi yang memagut hati.
Izinkan hamba yang tidak tau diri.
Kembali ke jalanMu lagi.
Berserah sendiri diri ini.
-Dalam linangan
Sabtu, 08 Oktober 2016
Terakhir kali
Aku duduk kembali.
Disela-sela pagi, di terik yang masih sepi.
Tidak ada kata, aku dan sendiri.
Masih saling sapa mata embun yang berkaca,
dari duka kemarin malam yang ada.
Aku duduk kembali.
Ditengah-tengah hilangnya kopi yang sudah enggan berbagi.
Sebab kehilangan bukan untuk bertemu kedukaan.
Kehilangan tentang melapangkan.
Dari ikhlas jemari yang lepas dan enggan memautkan pesan.
Aku duduk kembali.
Kemudian tidur disini.
Enggan kembali lagi.
Aku pamit hilang sepi.
-Terakhir kali.
Lazuardi
Ada pagi kali ini, siang sore berhenti.
Menghela nafas yang disambut hujan deras.
Dan langit baru muncul.
Awan yang hening serta tak biasa ialah ceria.
Langit dan teduh yang kamu hadirkan mampu membuat melupakan.
Sebab sederas apapun hujan akan berakhir dengan kehangatan.
Dalam langit dan tertawa.
Henti menjadi jelaga di tiap suasana.
Ada hadirmu seperti langit baru.
Lazuardi pagi di terataiku.
Jumat, 07 Oktober 2016
6 tahun lalu
Tepat malam ini enam tahun lalu.
Tujuh hari meninggalkan kami dalam duka sedu.
Entah apa dalam pikiranku saat aku begitu tak merasa meninggalkanmu.
"Temani aku" katamu.
Tapi aku memilih pergi dan asyik dengan orang lain.
Andaikan air mata ini tahu kapan dia keluar.
Pasti aku mau menemanimu walau waktu menghalangi hingga sukar.
Dalam punggungmu terukir kebaikanmu.
Dalam kakimu surga kami berpadu.
Kini sudah enam tahun lalu.
Aku selalu mengingatmu dalam do'aku.
Perempuan permata yang disayang keluarga yang saat ini rindu.
Ibu.
Siti aminah.
Rabu, 05 Oktober 2016
Unggun pemahaman
Berbicara dalam keramaian hanyalah sebuah sepi yang sembunyi sendirian.
Sebab ada beribu kata yang tak bisa terungkap hanya dengan mulut berkecap.
Ada hati yang sulit berbagi, dan mata yang mulai berkaca.
Memang,
Namamu adalah luka yang terselip pada biji kopi.
Lalu setiap malam aku meminumi nya, menikmatnya.
Membangun sebuah rumah yang kusebut sajak dengan namamu sebagai pondasinya.
Perasaanku menjadi tiangnya.
Serta penyesalan melingkupi atapnya.
Mempertahankan kerinduan.
Menceritakan pesan bahwa kekecewaan tak pernah terlupakan.
(untuk mawar)
-Unggun pemahaman.
Selasa, 04 Oktober 2016
Hilir
Sedambamu dalam mencari rindu,
tak membuatku kaku.
Jika hening mampu membaur dalam malam,
mengapa kamu enggan datang dan bersalam.
Jika kamu ingin berpisah dengan indah,
maaf, senjakala lebih tau cara berpisah dengan indah.
Menampik pagut memisah raut.
Aku dalam namamu sudah tak berpaut.
-Hilir
Sabtu, 01 Oktober 2016
Hujan 3
Pagi pun sudah datang hari ini.
Menyisakan, basah.
Serta bercak luka kemarin sore.
Hadirmu pun sebatas mampir untuk berakhir.
Aku tidak tahu tentang segala yang ada dalamku.
Aku ingin hilang.
Hujan 2
Aku tahu hujan ini sesaat.
Tapi tetap saja ada luka melekat.
Aku akan lebih mudah melupakan keterlanjuran.
Jika tidak pernah ada kesengajaan.
Tuhan selalu merelakan diriku untuk bisa melihat pertemuan mereka.
Ada yang tidak akan bisa kamu mengerti.
Tentang hujan dan pilihan yang kau cari.
Ada awan hujan kaki langit pun enggan.
Menahan hujan sebab duka sudah jatuh bersamaan.
Hujan.
(Semua ketidakwarasanku ialah masih saja ini tentangmu)
Hujan
Aku adalah gumpalan debu dan asap.
Aku adalah gumpalan awan hitam dilangit.
Aku adalah mendung kelam yang memayungi.
Aku adalah rinai air.
Aku adalah hujan di awan jingga yang menghitam waktunya.
Aku adalah gumpalan debu yang menjadi hujan,
kemudian membasahimu bersamanya.
Ingin menghadirkan sejuk dan suasana romantis untukmu,
tanpa kau memperdulikan bahwa aku sedang jatuh.
(Saat aku melihatmu dengannya didepan hujan yang sama)