Berbicara dalam keramaian hanyalah sebuah sepi yang sembunyi sendirian.
Sebab ada beribu kata yang tak bisa terungkap hanya dengan mulut berkecap.
Ada hati yang sulit berbagi, dan mata yang mulai berkaca.
Memang,
Namamu adalah luka yang terselip pada biji kopi.
Lalu setiap malam aku meminumi nya, menikmatnya.
Membangun sebuah rumah yang kusebut sajak dengan namamu sebagai pondasinya.
Perasaanku menjadi tiangnya.
Serta penyesalan melingkupi atapnya.
Mempertahankan kerinduan.
Menceritakan pesan bahwa kekecewaan tak pernah terlupakan.
(untuk mawar)
-Unggun pemahaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar