Selasa, 20 September 2016

Jadi

Jadi langkahmu sudah jauh?
Merakit rindu yang lama menjadi syahdu.
Sementara aku kau tinggal dalam hujan kenangan yang lupa berteduh.
Jadi langkahmu sudah jauh?
Menggandeng tangannya, menangkupkan do'a.
Aku pasrah dalam duka bersimpuh pada sang pemilik semesta.
Jadi langkahmu sudah jauh?
Enggan kembali ke masa lalu yang kita bangun dengan harapan itu.
Jatuh kau ku angkat.
Jatuhku kau tak ingat,
dan memilih pergi tanpa sekat.
Jadi langkahmu sudah jauh?
Ya, apa pedulimu?
Terimakasih luka ini untukku.
Ternsenyum adalah bagianmu.
Sebab aku tahu rasanya berjuang sampai akhir tanpa kau timbang,
lalu kau pergi dengan lain aku kau buang.
Apa aku marah?
Tidak.
Percayalah.
Ada ngerti dibalik hianat yang tak pernah merasa peduli.
Ada sedalam duka saat sengaja kau suguhkan luka.
Ada sakit diantara masa yang katamu ada masalalu bersamaku yang tak ingin kau ungkit.
Apa kamu sudah lupa?
Sampai detik akhir impianmu.
Aku hadir disana membawakan do'a berdiri untukmu.
Terimakasih atas segala rasa.
Berpalingmu adalah dusta yang tak pernah kuduga.

Tentang kopi dan bangku yang rindu

Tentang kopi dan bangku yang rindu

Pekat yang disuguhkan, terima kasih tuan.
Kau haturkan kopi ke mejaku bersama ingatan.
Ya, ditempat duduk ini beberapa bulan lalu dia bilang membawa sapu tanganku.
Rindu katanya.
Benda itu mewakilkan hadirku padanya.
Dia bilang ingin berbincang seharian tanpa resah.
Aku siap mendengar cerita seribu suka.
Bincangnya dalam tawa, bersama
tiap jengkal cerita dari suara teman sebangkunya.
Rindu katanya.
Mencium sapu tangan mewakilkan hadirku padanya.
Kenanglah waktunya.
Karena saat ini sudah tiada diduga.
Pergi dariku hadirnya.
Bersama orang baru yang dia cinta.
Beberapa bulan lalu,
kopi ini selalu mengingatkanku.

Tentang yang sudah lupa

Sudah kulukiskan, apakah tidak ingat?
Selaksa jemari mengungkit lembaran menjadi hiburan.
Sudah kugambarkan, apakah tidak ingat?
Sejengkal dua pangkal aku bentukkan sampai menjadi kekokohan.
Sudah kuterangkan, apakah tidak ingat?
Sepatah suara aku iringkan dalam do'a tanpa resah.
Sudah kutunjukkan, apakah tidak ingat?
Mengiringkan jalanmu menuju mimpimu.
Sudah kusampaikan, apakah tidak ingat?
Tentang cara berdiri ditengah badai tak bermuara.
Sudah kukuatkan, apakah tidak ingat?
Saat bertahan didasar sulit yang paling pahit.
Sudah kusenyumkan, iringkan, do'akan, suguhkan, indahkan.
Terakhir ku salamkan.
"Selamat semua sudah kau lupakan dengan luka yang sudah sukarela kau suguhkan". Untukku.
Ucapku luka ini takkan mungkin kulupakan.