Jumat, 23 September 2016

Dalam waktu

Malam menegaskan waktu.
Enggan berbalik dan memukul jauh.
Sebab tiada ingin sedu.
Merindui lalu yang tak kunjung temu.

-dalam waktu

Hujan malam

Ada satu dalam daku.
Sedih tulismu.
Dalam pesan singkat di dindingmu.
Apa rasa itu?
Sedihkah?
Seribu tanya kulempar pada semesta.
Sepi tetap saja menjawab dengan bahasa bisunya.
Entah waktu merajuk atau mulai lupa.
Mengapa?
Ada peduli dalam benci dihati.
Ada percaya pada rasa yang mulai tiada.
Hadir menuduh ingin aku membujuk.
Menghentikan lukanya yang datang merajuk.
Sebab rumit rasa miliknya dengan orang lain.
Masih.
Kusuguhkan sederhana dalam ingin.
Menyediakan sandaran pada peluhmu yang dingin.
Mengusap.
Menegaskan.
Peduliku dalam diam, hadir untukmu yang masih tak bersalam.

-hujan malam

Sia-sia

Mengapa harus tentang rindu, jika ini tak kunjung temu.
Ada sekat yang menghalang dekat.
Menyapa ingat agar tak kunjung sesaat.
Berbicaralah.
Ada diammu mengisyaratkan makna.
Ada diamku pun merasakan luka.
Tak bergeming.
Kau tak acuh.
Aku diam.
Mengisyaratkan benci hadir dalam sepi.
Menjunjung duka merekah dalam dada.
Kita beranjak tak bersapa.
Jauh tinggalkan semua yang pernah singgah.
Acuhmu, diamku.
Sajakku bicara.
Ini punya keadaan tak ada makna.
Sia-sia.

-dalam jauhku merindu