Aku melihat kedua bola matamu yang menyelinap merindui embun pagi yang mencoba menampik sepi.
Memadamkan segala caya atau hitam pekat yang berdebu ditepian senjakala.
Tapi tetap saja wajahmu hilang dibalik rembulan yang perlahan meredam.
Aku mencoba menghadirkan matahari, menenangkanmu dan menunggui pagi, tapi senyummu tak pernah kembali seperti sedia kala lagi.
Apa senyummu telah menepi dibias kemukus pagi hari, atau hanya sekedar hilang agar aku mau pergi mencari.
Dua belas bulan aku telah merangkai hari, di siang malam titik balik bulan segala cahaya matahari yang mengusir sepi, namamu masih saja belum kutemui.
Dan kuceritakan padamu kembali,
desember ini berakhir kan tak seperti dahulu lagi.
29/12/2016
-Dua puluh tahun kumenunggu wajahmu kembali.