(Untukmu dan kita, tanpa aku. Yang sulit dan bahkan tidak akan bertemu.)
Aku menjalani namamu sendiri.
Aku memeluki kaki huruf kisahmu.
Aku mencari sebuah celah ketidak mungkinan.
Mungkin jarak yang tidak berarah
Mulai berdesak-desak ingin rindu
yang tidak menahu
Memasak mata di alis lekuk bintang wajahmu
Aku meniduri mimpi sendiri
Sebagai rupa yang tidak tau arah sebab cinta
Yang memiliki nama cuma tidak ada yang berkata
Ya, katamu adalah guyonan senja yang garing
Tapi tentang suara itu kini awan mulai sering beriring
Yang terlena jatuh menjadi mabuk hujan
Jera, biar aku biar jera
Kini sajakpun nyata tak melampah
Yang merebah menculik mesra raya
Stanza terakhir yang kurindu tak menahu
Awan angin ribut mengetuki mimpi
Renta ia melangkah
Angan yang merabun beruban
Fasih mengukir resah
Ada merindu yang tidak akan pernah tahu
Hanya bernama sebuah sajak lusuh
Dari yang sulit dan bahkan tidak mungkin bertemu.