Tak tentu arah aku bisa menunggumu
katamu yang berserakan mengakar
pada akhirnya
aku hilang waktu juga.
.
Sebuah jendela terbuka dan pintu
dibiarkna pergi meninggalkan rindu begitu saja
hingga nantinya
waktu akan menjemputku dengan sukarela.
.
Apa mungkin aku atau memang
kamar ini yang mulai mendingin;
beberapa dari kabut sunyi meniduriku
diranjang tak bertepi.
Bisakah kita bertemu untuk sesekali?
.
Dan jika cintalah buah kalbu
ia pernah hidup dirahim rindu,
sesekali aku ingin menyatu.
Dalam sebuah dzikir yang hidup kalbu.
Jumat, 12 Mei 2017
Permintaan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar