Minggu, 28 Mei 2017

Seraya

(Untukmu dan kita, tanpa aku. Yang sulit dan bahkan tidak akan bertemu.)

Aku menjalani namamu sendiri.
Aku memeluki kaki huruf kisahmu.
Aku mencari sebuah celah ketidak mungkinan.

Mungkin jarak yang tidak berarah
Mulai berdesak-desak ingin rindu
yang tidak menahu
Memasak mata di alis lekuk bintang wajahmu

Aku meniduri mimpi sendiri
Sebagai rupa yang tidak tau arah sebab cinta
Yang memiliki nama cuma tidak ada yang berkata

Ya, katamu adalah guyonan senja yang garing
Tapi tentang suara itu kini awan mulai sering beriring
Yang terlena jatuh menjadi mabuk hujan

Jera, biar aku biar jera
Kini sajakpun nyata tak melampah
Yang merebah menculik mesra raya

Stanza terakhir yang kurindu tak menahu
Awan angin ribut mengetuki mimpi
Renta ia melangkah
Angan yang merabun beruban
Fasih mengukir resah
Ada merindu yang tidak akan pernah tahu
Hanya bernama sebuah sajak lusuh

Dari yang sulit dan bahkan tidak mungkin bertemu.

Berkali

(Untuk paman yang telah pergi)

Satu, dua, tiga
Enam, tujuh juga
Berapa kita sudah
Sejak semua orang mengantarmu
Dimana kita tidur?
Dijendela yang masih setia memandang jenuh duka
Bukan hanya pintu yang rindu
Cinta, sebuah pasak yang mengakar beluntas di kaki hati
Ah, sudah ramadhan lagi
Kini tempat itu kosong dan segala rindu mencari
Jendela, jendela, jendela
Kaca, kaca, kaca
Rumah, rumah, rumah
Timbunan cinta mengubur kita dalam rindu berjumpa.